Ribuan kilo jalan yang kau tempuhLewati rintangan untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu kumembalas, ibu… ibu…
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas, ibu… ibu….
Ibu, emak, bunda, ummi, atau apalah istilahnya adalah orang yang semestinya paling dekat dengan kita. Dari rahimnyanyalah kita dibentuk hingga lahir dan menjadi sosok manusia yang sempurna. Di rahim, tempat terempuk dalam menerima tumpahan kasih. Entah sengaja atau tidak, nama itu menjadi nama yang selaras dengan salah satu sifat Tuhan, Asmaul Husna.
Saya memanggil ibu dengan sapaan umak. Kilas kasihnya saat aku kecil dulu masih membekas hingga kini. Bagiku ibu adalah simbolisme kasih yang tak ada batasnya. Tumpahan kasih yang tak habis-habisnya. Malah hingga kini, saat aku telah menjadi orang seperti sekarang ini. Ibu tetap tak pernah habis rasa kasihnya.
Setiap saat, setiap waktu, saat melihat orang lain bersama umminya, saya terkenang ibu. Ibu yang terpisah jarak alam yang berbeda. Ibu yang masih setia tersenyum tenang menantiku di surga sana. Sementara aku, anaknya sedang berjuang mendapatkan ridho illahi untuk bekalnya.
Sudah 5 tahun saya tidak bertemu ibu. Terakhir ibu tersenyum ketika menanyakan prestasiku di kampus dalam baring sakitnya.
Biasanya bila rindu datang, aku menghubungi ibu lewat pesawat handphone. Rasanya ingin menangis bila suara ibu yang serak kembali menggetarkan ruang telingaku. Ada hawa sejuk mendengar nasihat yang ibu berikan. Ibu selalu begitu. Tak peduli anaknya sedang sibuk ataupun yang lainnya.
***
Bagi saya, ibu sosok pekerja keras. Ibu memang tak pernah mengenal lelah dalam bekerja membantu UBAK ( sapaan u ayah ). Akan tetapi, perhatian pada pendidikan, dunia sekolah, telah mendorong ibu untuk bersikap tegas: anak-anaknya harus bersekolah. Alhamdulillah dalam kenyataan. Sesulit apapun, pendidikan harus nomor satu. Anak-anaknya –yakni saya dan saudara-saudara saya – harus sekolah.
Rata-rata anak ibu tamat SMA dan S1 .kami, anak-anak ibu, pergi merantau. Melanjutkan pendidikan atau mencari kerja. Saya sendiri sebagai anak kelima merantau ke tanah Jawa setelah selesai kuliah. Dalam pencarian diri akhir 2011, setelah beberapa bulan di Jakarta, jadilah saya kemudian menetap di Kalideres Jakarta Barat.
Beberapa kali saya pulang ke kampung, hanya sekedar berziarah ke makam ibu dan bertemu sanak saudara. Melepas rindu pada ibu. Namun bila telah kembali ke pulau Jawa, kidung rindu pada ibu tetap menderu dalam kebeningan jiwa.
Terakhir saya pulang tahun lebaran idul fitri tahun kemarin. Sejak itu saya belum lagi melihat kampung halaman. Tetapi untunglah, saya selalu bisa berjumpa dengan ibu dalam mimpi, senyum diphotonya. Ibulah yang berkunjung ke dalam fikiranku, selalu memberi support dalam angan.
Ada keinginan ingin jumpa. Akan tetapi semua sudah takdir dan ketentuan yang maha kuasa.
Kini, di telingaku, kidung rindu itu terus bergemuruh, berbantun-bantun, menelusup setiap desah napas. Gemuruh yang kian menderu manakala tembang “Ibu” di atas dilantunkan Iwan Fals. Begitu indah, begitu sahdu.dan di dalam perjuangan ini ,rinduku kian menggemuruh, bersama kidung kasih yang tetap mendayu-dayu.
Rindu_Ibu.Com