Rabu, 30 November 2016

ADAKAH SENIORITAS DI LINGKUNGAN INSTANSI PENDIDIK ... ?

Kenyamanan di tempat kerja pun sangat berpengaruh terhadap betah atau tidaknya mereka bekerja di suatu tempat. Jika seorang karyawan merasa tidak nyaman dengan tempat kerjanya, otomatis mereka merasa bosan dan pada akhirnya memutuskan untuk berhenti.
Salah satu bentuk ketidaknyamanan itu diantaranya; rekan kerja yang suka menjatuhkan, selalu bikin ulah, jutek, tidak ramah, SENIORITAS, dan lainnya. Hal ini harus dihindari untuk meminimalisir polemik negatif yang terjadi pada sebuah tim kerja, di sini harus ada peran konselor untuk menangani hal ini. Diantaranya:

Konselor, akan membantu karyawan menemukan titik terang dari kebuntuan yang sedang dirasakan oleh karyawan. Konselor akan memberikan arahan kepada karyawan agar nantinya bisa lebih nyaman lagi berada di tempat kerjanya, hal yang bisa iya sarankan ialah memberikan pandangan yang seperti ini :

Langkah pertama yang bisa dilakukan tentunya adalah introspeksi diri. Sudahkah bersikap baik dan berusaha menjalin hubungan yang baik dengan rekan kerja? Bila belum, berhenti bukanlah jalan keluar untuk mendapatkan lingkungan yang lebih baik. Karena kemungkinan besar masalahnya ada dalam diri kita sendiri. Jadi harus berubah dan berusaha beradaptasi. Jangan berharap selalu dimengerti orang lain. Orang-orang memiliki terlalu banyak beban hidup yang harus dipikirkan dari pada pusing-pusing memikirkan bagaimana caranya membuat anda bahagia di kantor. Kalau cukup nyali, bisa melakukan survey, kira-kira hal apa yang tidak disukai oleh rekan kerja kamu dari dirimu, tanyakan dengan jujur dan katakan bahwa kamu ingin memperbaiki diri. 

Kemudian apabila rekan kerja kita semakin suka menjatuhkan kita, sebaiknya kita tetap bekerja dengan baik dan jangan terlibat di dalamnya. Cueklah walau mungkin diri kitalah yang akan disingkirkan tapi yakinlah bahwa rejeki setiap orang sudah diatur oleh Tuhan. Dan tetaplah semangat, tetaplah berikan performa terbaik.
Kemudian mengenai atasan di kantor, kita jangan buru-buru menyalahkan sepenuhnya, ada hal-hal yang harus kita perhatikan. Diantaranya;

Perlu diketahui, atasan menegur tentu ada sebabnya. Mari introspeksi diri dulu. Dari kejadian pertama kita ditegur, tentunya kita bisa menebak seperti apa karakter atasan kita tersebut. Hasil kerja seperti apa yang ia sukai dan yang tidak ia sukai. Bila sudah tau, berusahalah memberikan hasil kerja terbaik yang bisa anda lakukan. Lihat juga sisi positifnya, atasan seperti itu akan membuat kita tetap rendah hati dan menyadari bahwa kita masih harus banyak belajar untuk mencapai kesempurnaan.

Selanjutnya jika ketidaknyamanan itu datang karena merasa atasan atau rekan kerja kurang peduli atau kurang perhatian, Sebaiknya kita kembali ke motivasi awal untuk bekerja bukanlah untuk mengesankan siapa-siapa. Tetaplah bekerja dengan baik dan sadarilah bahwa Tuhan maha tau dan tak ada hal baik yang akan sia-sia.

Hal-hal kecil seperti ini sering sekali diabaikan oleh karyawan. Merasa dirinya telah benar tapi melupakan posisinya sebagai bawahan yang seharusnya memiliki tindakan yang lebih lagi untuk dapat mengambil hati dan lebih bersikap sosial terhadap rekan kerjanya. Tentunya hal-hal ini bisa disampaikan oleh konselor kepada para karyawan agar nantinya tidak ada lagi permasalahan yang ditimbulkan karena alasan ketidaknyamanan tempat kerja, khususnya hubungan antar atasan dan bawahan.

Untuk para karyawan yang tidak pernah sadar akan prilaku buruk, selalu bergosip membicarakan keburukan pimpinan dan oranglain tanpa melihat keburukan sendiri , menjatuhkan dan merendahkan rekan kerja berharap diri dipandang yang terbaik, menghasut orang lain untuk mengikuti pemikiran dan menyamakan persepsi. Cepat atau lambat pasti mereka akan membuka topeng aib mereka sendiri.
So " bekerjalah yang enak tapi jangan seenaknya."

Senin, 08 Agustus 2016

Ujian Sekolah Menegangkan dan Menyeramkan ... ? Siapa bilang.... :)

Bagi sebagian murid dan bahkan orangtua..ujian sekolah atau test adalah hal yang sangat menegangkan. Karena dari hasil tes itulah akan terlihat nilai yang diperoleh dari hasil belajar selama ini. Tapi apakah pencapain hasil belajar hanya dilihat dari hasil tes saja ? .... Jika target pembelajaran hanya terpaku pada nilai dan menuntut murid untuk mencapai nilai tertinggi tanpa memperhatikan proses pembelajaran itu sendiri. Hal itulah yang mengakibatkan mindset murid dan orangtua menjadikan ujian atau tes sekolah adalah titik akhir dari sebuah perjuangan.

Tugas kita sebagai tenaga pendidik untuk merubah mindset itu. Bagaimana caranya agar ujian atau tes sekolah tidak ditakuti dah bahkan terkesan menyenangkan. Sehingga nantinya dalam pemikiran mereka bahwa ujian itu untuk belajar. Bukan belajar untuk ujian. Nah berikut beberapa tips yang akan admin share :

1. CIPTAKAN SUASANA KELAS YANG HOMEY
Sekolah adalah rumah kedua bagi murid - murid kita. Tugas kita bukan memaksa mereka untuk belajar. Akan tetapi menemani mereka dalam belajar. Suasana yang nyaman. Interaksi serta komunikasi yang baik. Akan membuat proses pembelajaran lebih efektif. Bukan hanya kenyamanan yang kita berikan. Melainkan motifasi dorongan agar mereka lebih percaya diri. menggali potensi. Meraih prestasi dan mau berkembang.

2. GUNAKAN METHODE PEMBELAJARAN YANG KREATIF
Bukan masanya lagi dimana seorang guru mengajar hanya berceramah. Atau hanya menulis di papan tulis. Atau pembelajaran hanya terpaku pada buku pegangan saja. Akan tetapi saat ini guru dituntut untuk lebih kreatif dalam mengkemas pembelajaran tersebut agar lebih menarik dan menyenangkan. Apapun bisa dijadikan media pembelajaran. Baik lembaga sekolah yang sederhana atau terbilang minim fasilitas. Terlebih lagi lembaga sekolah yang fasilitasnya lengkap. Jadi Tidak ada alasan untuk tidak berkreasi.

3. PENILAIAN DARI SEGALA ASPEK
Nilai ujian bukanlah satu satunya tolak ukur untuk mengetahui murid berhasil atau tidak dalam belajar. Melainkan hanya untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka dari materi yang sudah disampaikan oleh guru. Karena dalan proses pembelajaran tidak hanya materi pelajaran yang disampaikan oleh seorang guru. Akan tetapi banyak ilmu pengetahuan lainnya yang diberikan. Kedisiplinan. Kemandirian. Attitude dan lain - lain. Mereka menginjakkan kaki datang ke sekolah untuk belajar dan mendapatkan hal baru dalam hidup mereka disetiap harinya. Dan itu perlu diapresiasi oleh guru. Jadi penilaian tidak hanya diambil dari hasil tes materi saja. Yang terpenting adalah mereka mau menyelesaikan tanggung jawab yang sudah diberikan dan siap menerima konsuekensi apapun dari setiap yang dilakukan. " life education "

4. PENYAJIAN SOAL UJIAN YANG MENARIK
Mungkin sebagain dari para pendidik banyak yang tau bagaimana bentuk tes atau ujian sekolah di beberapa negara maju. Ada yang ujiannya hanya melakukan praktek. Ada yang ujian sekolahnya disesuaikan dengan kemampuan dan bakat siswa. Ada juga yang ujiannya tetap menggunakan paper test akan tetapi bentuk penyajiannya yang berbeda. Ada yang ujiannya memanfaatkan tekhnologi. Dan lain - lain. Nah dari situ kita bisa melihat bahwa betapa banyak variasi yang dilakukan agar murid nyaman dan senang mengikuti aktifitas ujian sekolah. Apakah kita masih akan tetap mempertahankan sistem test yang hanya dengan kertas putih. Pilihan ganda. Terkadang tulisannyapun kurang jelas karena photocopy soal yang kurang baik. Dan itu yang akan membuat murid kita merasa jenuh. Bosan. Dan mengakibatkan fikiran mereka buyar. Kurang fokus dalam mengerjakan soal. Cara seperti ini akan mengekang polapikir mereka. Tapi jika kita bisa menerapkan salah satu sistem ujian atau tes sekolah yang sudah dilakukan oleh beberapa negara maju. Maka nantinya mereka akan berfikir bahwa. Ujian Sekolah adalah kegiatan yang sangat dinantikan. Karena pada kesempatan itu mereka bisa memperlihatkan kemampuan hasil belajar mereka selama ini .baik itu akademik maupun non akademik.

#guruinspiratif  Sekolah Tunas Mekar Indonesia 2k16 / SMA Tunas Mekar Indonesia

Rabu, 03 Agustus 2016

" BELAJAR SAMBIL INTERNETAN....? WHY NOT ... :) "

Peran Media sosial bagi remaja

Media sosial telah menjadi sebuah sarana umum yang dipergunakan dalam kehidupan individu sehari-hari dan era baru dalam proses belajar mengajar (Rasmita Kalasi, 2014)[4]. Penyebaran informasi yang terjadi dalam kalangan remaja terbilang sangat cepat akibat media sosial, diungkapkan oleh Grant and meadows (2010) bahwa informasi dalam media sosial berkembang dan menyebar luas seperti virus dalam tubuh. Anak-anak pada usia remaja di Indonesia sangat cepat beradaptasi terhadap perkembangan teknologi yang ada saat ini. Maka, tidaklah mengherankan jika kita berada di pusat keramaian, kita dapat melihat para remaja yang saat ini minimal menggunakan sebuah perangkat digital untuk membantu aktivitas mereka.
Media sosial memiliki daya tariknya sendiri bagi setiap kalangan, begitupula dengan kalangan remaja. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh kementrian Kominfo dalam penelusuran para pengguna aktivitas online pada anak usia remaja tahun 2014, ditarik kesimpulan bahwa penggunaan media sosial sangat melekat dengan kehidupan remaja sehari-hari. Dalam studi ini ditemukan bahwa dari 98 persen remaja yang di survei tahu tentang internet dan 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet. Daya tarik internet dan media sosial inilah yang kemudian memegang peranan penting dalam membangun kemampuan berkomunikasi seseorang. Remaja saat ini begitu peka dengan perubahan yang terjadi dalam teknologi sosial, mereka mengikuti perkembangan tersebut dan menguasainya dengan proses belajar menggunakan metode “Trials and Error” (Rasmita Kalasi, 2014).
Pendidikan Remaja Indonesia

Pada dunia pendidikan remaja kini, proses belajar tidak lagi terfokus pada penyampaian informasi yang dibatasi dinding-dinding kelas. Ledakan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa jejaring sosial sangat popular pada perkembangan komunikasi saat ini (Rasmita Kalasi, 2014). Sosial media menciptakan sebuah budaya baru di mana para pengajar dan para peserta didiknya tidak hanya dapat melakukan proses belajar di dalam konteks ruangan secara fisik, namun karena munculnya media sosial memungkinkan proses pendidikan dilakukan dalam ruang lain secara maya.
Penggunaan sosial media secara formal dapat diartikan sebagai kombinasi antara belajar secara analog maupun secara online. Komunikasi media sosial yang terintegrasi dengan baik melahirkan lingkungan belajar yang baru, peran guru perlahan berubah karena adanya teknologi media yang berkembang. Rasmita Kalasi[4] (2014) mengungkapkan bahwa peran guru yang awalnya merupakan pemberi pengetahuan, kini berubah menjadi pihak yang menfasilitasi pembagian pengetahuan karena informasi dan ilmu yang didapat oleh para peserta didik tidak lagi hanya didapat dari guru saja.
Penggunaan media sosial sebagai pembangun kualitas pendidikan mulai digalakkan. Berdasarkan penelitian Rasmita Kalasi pada tahun 2014, diperoleh hasil bahwa 90 persen peserta didik yang duduk di tingkatan fakultas menggunakan sarana media sosial dalam belajar dan mengerjakan tugasnya atau menggunakan media sosial untuk membangun karier di luar dunia kelas formal. Pembangunan pendidikan remaja lewat media sosial dapat membuktikan bahwa setiap individu pada dasarnya butuh berkomunikasi dan terlibat di dalam sebuah komunitas, terlepas dari apapun bentuk komunitas yang ada (Rasmita Kalasi, 2014).

Setiap siswa remaja maupun mahasiswa yang terdorong untuk menggunakan media sosial sebagai salah satu media belajar perlu memiliki pemikiran yang kritis sebelum menggunakannya, serta dapat menyaring informasi yang diperoleh dalam internet dan media sosial. Pendidikan dengan tingkat yang lebih tinggi di Indonesia telah menerapkan sedikit demi sedikit pemanfaatan media sosial dan internet dalam ruang lingkup didikannya. Kehadiran Media sosial telah menjadi pelengkap dalam proses penyampaian informasi secara digital, namun kehadirannya tidak serta merta menggantikan posisi media belajar lain yang sifatnya analog seperti media cetak. Penggunaannya terbatas pada kemampuan pengguna yang belum mempuni, seperti jaringan internet yang masih sulit didapatkan pada daerah-daerah tertentu di Indonesia.



Referensi
^I'd.m.Wikipedia.org, Grant, A. E. & Meadows, J. H. 2010. Communication Technology Update and Fundamentals. 12th Edition. Focal Press.^ Selwyn, Neil. 2012. Social Media in Higher Education.^ Halpin,H. and Tuffield, M. 2010. Social web XG Wiki. World wide web consortium (W3C).^ a b Kalasi, Rasmita. 2014. The impact of Social Networking on New age Teaching and Learning: An Overview. Journal of education & social policy vol.1. Pict " Sekolah Tunas Mekar Indonesia Lampung. Grade XII 016" / SMA Tunas Mekar Indonesia

Selasa, 26 April 2016

SAAT MATA ANDA BERBICARA



Mulut Anda bisa berbohong tetapi mata Anda tidak. Mata Anda dapat menangkap hal-hal yang tak terdengar tetapi terlihat, juga dapat memancarkan perasaan yang sejujurnya dari diri Anda. Mengapa? Karena ketika Anda merasa tertarik, bosan, sedih, cinta atau yang lainnya mata anda memancarkan perasaan itu.
            Dalam pandangan psikologi mata juga memiliki peran besar, menurut Harry Setyowibowo, Dosen Fakultas Psikologi Unpad, mata dibahas dalam mata kuliah yang beliau ampu yaitu ilmu pernyataan. Dalam Ilmu tersebut mata dikupas dari segi psikologi bahwa mata dapat menyatakan makna yang mendalam.
            Pernyataan yang diartikan dari mata terlihat dari gerakan mata, perbesaran dan mengecilnya pupil mata, arah pandangan, dan fokus mata pada suatu objek. Mata adalah alat non-verbal yang paling jujur. Alat nonverbal lainnya masih dapat dimanipulasi oleh Anda meskipun peluangnya kecil. Contoh ketika Anda sedang bersedih, bisa saja berkata sedang senang lewat gerakan tangan, postur tubuh, dan mimik wajah dapat dimanipulasi ketika berada di sekitar teman-teman Anda, mungkin karena Anda tidak ingin terlihat sedih di depan mereka. Tetapi tentu mata Anda berkata lain.
            Ketika mata menangkap stimulus-stimulus tertentu yang paling berperan dalam menyampaikan pesan dari mata adalah pupil. Aktivitas pupil ini tidak dapat dikontrol oleh diri Anda sendiri, ketika merasa tertarik otomatis pupil akan melebar sedangkan ketika Anda tidak tertarik atau bosan pupil akan mengecil. Anda tidak dapat mengendalikan pupil. sehingga mata merupakan alat noneverbal yang tidak bisa anda manipulasi. Apabila Anda memahami mengenai mata maka akan mudah membaca apa yang dirasakan seseorang lewat matanya, karena orang akan lebih sulit mengendalikan gerakan mata, otot mata dan pupil mata daripada lisannya, Mata adalah alat nonverbal yang paling jujur dari dirimu!


            Mata adalah Jendela hati. Tentunya istilah ini sudah tak asing lagi bagi Anda. Tetapi apa makna dibalik istilah tersebut? Mata adalah salah satu cermin emosi anda. Kita lebih sering mengungkapkan pernyataan dan emosi bukan dari kata-kata (verbal) melainkan melalui gerakan nonverbal. Anda dapat berkata bahwa sekarang ini sedang bahagia karena jatuh cinta walaupun sebenarnya sedang patah hati, hal ini dapat terlihat dari mata Anda yang memancarkan emosi kesedihan.
             Nah! Dalam berhubungan dengan orang lain Anda harus lebih cermat membaca lawan bicara, ketika lawan bicara ingin menyampaikan sesuatu, di balik peryataannya terdapat pola pikir, emosi, dan  harapan. Bila jika Anda ingin mengetahui apa pesan yang sesungguhnya disampaikan oleh si lawan bicara. Maka yang pertama harus anda perhatikan, adalah pesan-pesan nonverbal. Terlebih jika Anda ingin membaca emosi dari lawan bicara maka perhatikan lah peryataan nonverbalnya terutama mata.
            Seberapa sering Anda memperhatikan mata lawan bicara? Mungkin tidak begitu sering karena umumnya kita hanya menyerap dan memproses pesan yang disampakan melalui lisan lawan bicara, namun tahukah Anda bahwa dari gerakan mata saja kita dapat mengetahui apakah lawan bicara kita berkata jujur atau bohong?
            Menurut penelitian yang dikaji oleh beberapa ahli bahwa gerakan mata memiliki makna tertentu. Penelitian ini menghasilkan asumsi bahwa ketika seseorang berbicara disertai gerakan mata ke arah kanan maka orang tersebut diasumsikan berbohong, berkebalikan dengan ketika seseorang berbicara disertai gerakan mata ke arah kiri maka orang tersebut dapat dikatakan mengatakan hal yang sebenarnya atau jujur.
            Latar belakang dari asumsi tersebut bermula pada suatu teori yang membagi otak manusia menjadi dua bagian yaitu otak kanan dan otak kiri. Fungsi dari kedua bagian otak tersebut sangat berbeda. Otak kanan adalah otak yang berfungsi membuat sesuatu yang baru, imajinasi, dan kreativitas sedangkan otak kiri adalah otak yang berfungsi memanggil kembali atau mengingat, dan menyimpan.
            Tentunya jika seseorang berbicara kebenaran seharusnya gerakan matanya ke arah kiri, karena hal itu berarti memanggil kembali ingatan berdasarkan pengalamannya atau sesuatu yang telah benar terjadi. Tetapi ketika seseorang akan berbohong tentunya ia akan terus mengakses otak kanannya yang akan disertai gerakan mata ke arah kanan. Hal ini berarti seseorang berusaha menciptakan hal yang baru dan yang ia ucapkan mungkin bukan kenyataan.
            Mata adalah salah satu aspek untuk mengenal kepribadian Anda. Tentu selain gerakan mata terdapat hal lain yang dapat anda terjemahkan menjadi pesan nonverbal yang sangat kuat. Salah satunya kedipan. Makna di balik kedipan terbagi membagi dua makna yaitu makna primer dan sekunder.
            Secara primer kedipan merupakan reaksi tidak senang terhadap suatu gangguan. Kelompak mata yang berkedap-kedip berfungsi untuk membasahkan mata secara teratur. Kalau ada benda asing mengganggu mata serta membuat sakit, maka untuk meghindarkan gangguan kita sering berkedip-kedip. Penghayatannya adalah sesuatu yang mengganggu.
            Secara sekunder kedipan mata merupakan penghayatan dari keadaan yang tidak menyenangkan. Kedipan terjadi secara teratur dalam keadaan yang tidak menyenangkan bertambah frekuensinya. Jika ada pembicaraan empat mata dan hubungan pandangan dirasakan menyakitkan maka akan terlihat mata berkedip-kedip. Ini dapat ditemukan pada mereka yang ragu-ragu,bimbang,tak punya pendapat.
            Dan juga ketika Anda mengedip lebih dari tiga menit seakan memejamkan mata, dalam pandangan psikologis ini bermakna bahwa anda melakukan penolakan terhadap sesuatu sehingga Anda tidak ingin ingatan tersebut ada dalam memori anda. Selain itu terdapat makna kedipan sebagai makna keindahan, seperti para penari bali yang mengedipkan matanya dengan maksud menambah keindahan dari tarian yang ia sajikan.
            Meskipun tidak semua kedipan mengandung makna tersebut, karena kedipan juga dipengaruhi faktor biologis seperti yang dijelaskan makna kedipan secara primer untuk melidungi mata dari objek tertentu atau mungkin dikarenakan suatu penyakit.
            Anda pasti pernah menangis. Dalam psikologi ini disebut mata berair. Secara primer mata berair merupakan reaksi tidak senang terhadap suatu gangguan. Jika mata terangsang suatu benda maka respon adalah kedipan kelopak mata, memincingkan mata dan mengeluarkan air mata dengan tujuan untuk menyingkirkan gangguan. Adanya rangsang yang menimbulkan nyeri dan adanya sekresi air mata, maka penghayatan tidak menyenangkan itu berpindah ke perasaan bahwa keadaan tidak tertolong lagi, rasa tidak tertolong muncul karena mata yang berair tidak dapat lagi menerima gambaran optis, dengan perkataan lain tidak melihat apa-apa. Karena itu kita merasa seolah-olah terancam dan tak dapat melawan.
            Secara sekunder mata berair merupakan pernyataan dari perasaan tak berdaya. Ini timbul karena merasakan sesuatu yang amat menyakitkan, kesedihan. Rasa tidak tertolong, rasa tak berdaya muncul sehingga mata kita bereaksi mengeluarkan air mata. Menangis karena gembira berbeda dengan menangis karena kesedihan. Kegembiraan yang melua-luap sehingga orang yang bersangkutan dibanjiri penghayatan emosional dan tidak berdaya menghadapinya, maka timbul perasaan tidak tertolong yang menimbulkan air mata. Demikian pula dalam keadaan sangat marah.
            Arti karakterologi dari orang-orang yang mudah sekali menangis karena sebab kecil adalah bahwa orang tersebut masih kekanak-kanakan dan tak mempunyai daya lain untuk mengatasi kesukarannya sehingga menangis merupakan cara untuk menyampaikan maksudnya.
            Arah pandangan mata Anda juga memiliki makna tertentu. Ada dua kemungkinan arah pandangan yaitu arah pandangan lurus dan arah pandangan menyerong. Pandangan lurus menandakan adanya minat. Pandangan terjadi tegak lurus pada bidang wajah sehingga bayangan optis  yag terbalik terdapat pada selaput jala. Bila anda ingin mengamati suatu benda secara teliti, anda mengarahkan pandangan anda sepenuhnya pada benda tersebut.
             Dalam pergaulan, pandangan lurus mempunyai arti sosial dan juga berarti adanya minat dan pengakuan, tahu sopan-santun dan ketertiban. Dalam suatu pembicaraan, pandangan kita sering bertemu pada ketinggian yang kurang lebih sama. Ini mengakibatkan adanya kesediaan yang langsung dan terbuka. Karena itulah pandangn lurus dapat dikataan sesuia dengan watak yang lurus. Pandangan lurus juga ditemukan pada seorang anak. Suatu pernyataan percaya, kata hati yang baik karena itu anak dapat memandang kita dengan bebas. Pada orang dewasa kita juga dapat memandang seperti ini tanpa berkedip. Ini merupakan pernyataan kejujuran dan ketulusan.
            Bagaimana dengan pandangan menyerong? Pandangan menyerong ini terjadi ketika anda melihat dari sudut mata, baik ke samping, ke atas, maupun ke bawah. Pandangan menyerong diindentikan mempunyai maksud tertentu. Dalam keadaan santai atau malas dan  kita tidak ingin menyusahkan diri untuk menggerakan kepala sehingga menganggap cukup bila mengikuti sesuatu dengan memutar bola mata.
            Demikian pula bila kita melihat seseorang yang tidak kita senangi, kita menyapa sepintas lalu, melirik atau melalui bahu. Pandangan menyerong juga terjadi bila kita mengamati sesuatu secara tersembunyi, melihat tetapi tak ingin bahwa orang tahu kita mengamati sesuatu. Jadi ada maksud tersembunyi, tak ingin orang lain mengetahui hal tersebut.
            Ketika Anda bicara dengan seseorang berapa lama Anda melakukan kontak mata? apakah sering? Atau Anda bicara sambil tertunduk karena tak mau menatap lawan bicara. Ternyata hal tersebut juga dimaknai secara berbeda.
            Dalam pandangan psikologi ketika Anda menemui lawan bicara yang terus menatap mata Anda, hal ini dapat berarti bahwa ia bersaha mengintimidasi atau ia memiliki ketertarikan seksual kepada Anda.
            Ketika menghadapi lawan bicara yang selalu menghindari kontak mata dengan Anda ini dapat berarti bahwa ia tidak tertarik dengan pembicaraan atau adanya stimulus lain yang lebih menarik.
             Bagaimana kontak mata yang sesuai porsinya? Harry Setyowibowo menuturkan tips bagaimana membuat lawan bicara Anda selalu terfokus yaitu Anda harus memelihara kontak mata 60-80% dari pembicaraan. Bagaimana pembaca, mata adalah alat nonverbal yang menarik bukan? Semakin bertambah pengetahuan Anda mengenai mata, percayalah Anda akan dapat dengan mudah membaca pesan yang sejujurnya hanya lewat mata lawan bicara.