Kamis, 21 November 2013

METODE MANAGERIAL



Bismillahirahmanirahim.

TENET I
PADA UMUMNYA KARYAWAN MENDAMBAKAN BISA BEKERJA DISEBUAH PERUSAHAAN YANG BONAFIDE AKAN TETAPI IA MENDADAK BISA SAJA TIDAK BETAH JIKA ATASANNYA TIDAK BAIK

Kepuasan kerja karyawan sebagian besar tergantung dari kepiawaian sang manager.
People Keeper adalah metode atau cara yang paling meyakinkan bagi para manager untuk mengusung dirinya menuju puncak kesuksesan bersama karyawan-karyawannya. Bagaimana Anda bisa tahu seorang manager dikatakan berhasil menjadi people Keeper unggul atau tidak, tergantung kepada sebuah bukti KEBERHASILAN berupa karya nyata yang mereka hasilkan bersama anak buahnya.

Ukuran keberhasilannya ada 4 :
1. Moral ( sopan santun, tidak pernah berbohong
2. Produktifitas ( ulet, rajin dan banyak belajar )
3. Kualitas cinta ( kasih sayang ) dan
4. Kepuasan kerja ( bangga dengan profesi atau posisi yang diembannya )

Yang harus dilakukan oleh manager :
1. Pengawasan
2. Pendelegasian
3. Perencanaan
4. Budgeting
5. Instruksi
6. Pelatihan
7. Pujian / pemberian hadiah
8. Penjadwalan tugas dirumah
9. Menyelesaikan permasalahan
10. Disiplin dan
11. Memberikan feedback

10 HAL YANG DIINGINKAN PARA KARYAWAN TERHADAP MANAGERNYA
1. Ketulusan / Kejujuran
2. Memberi perhatian
3. Respek
4. Mau mendengarkan
5. Berkomunikasi
6. Memberikan kepercayaan
7. Memberikan penghargaan atau pujian
8. Fair
9. Bekerja secara teamwork dan
10. Bertindak tegas ( tidak pilih kasih )

Karyawan yang berpredikat sebagai top performer biasanya rela bekerja dengan atasan yang sudi memberikan penghargaan dan penilaian atas segala kontribusinya. Lalu bagaimana sang manager mengahadapi karyawan yang berpredikat sebagai poor performer ?
Karyawan yang berkinerja buruk, perlu diawasi karena bisa mempengaruhi karyawan yang berkinerja baik, bahkan bisa menularkan keburukannya kepada karyawan yang lain. Akan menjadi suatu kesalahan besar jika seorang manager mentolelir kesalahan yang mereka lakukan terlalu lama.

Sebagai Manager harus melakukan 4 intervensi :
1. Terjun ke lapangan dan selalu memperhatikan kinerja karyawan setiap hari.
2. Mencatat prestasi karyawan minimal sebulan sekali atau bila mana perlu 2 minggu sekali.
3. Melibatkan karyawan good performer untuk turut serta memberikan petimbangan atau penilaian. Jika karyawan yang berkinerja buruk bisa diselamatkan, sebaiknya tetap dipertahankan. Namun jika tidak, sebaiknya dipersilahkan mengundurkan diri dari perusahaan saja.
4. Melibatkan orang lain ( konsumen, teman dekat atau warga setempat ) untuk menilai kinerja karyawan.

Seorang People Keeper akan berhasil jika secara personal sudi melibatkan diri dalam menciptakan kepuasan kerja karyawan dan bila diperlukan mau bekerja sama dengan karyawan yang berkinerja buruk sekalipun.Rahasia terciptanya hubungan mesra antar karyawan dengan atasan adalah bahwa atasan harus menghormati, mendengar keluhan, siap untuk didekati, membuka dua telinga lebar-lebar dan mempersempit kesempatan untuk selalu mau menang sendiri atau bersikap acuh terhadap karyawan. ( 2 telinga : 1 mulut )

TENET 2
MANAGER HARUS MAMPU MEMBANGUN HUBUNGAN YANG BAIK DENGAN KARYAWAN
1. Manager harus pandai bergaul dengan karyawannya dan tidak keberatan jika dihubungi kapan saja ( pagi, siang bahkan malam sekalipun ) baik via telpon, sms, atau ketemu langsung, dengan syarat karyawan membuat perjanjian sebelumnya.
2. Luangkan waktu untuk banyak mendengar keluhan karyawan atau mencatat kelebihan-kelebihan mereka. Manager harus mampu berkomunikasi menggunakan bahasa sesuai dengan tingkat intelektual masing-masing karyawan. Manager harus bisa berbicara dengan hati ( talk with ) tak cukup bila hanya dengan omongan belaka ( talk at ).
3. Manager harus memperhatikan tingkat kepuasan kerja karyawan ditempat tugas, denga cara menanyakan jenis kegiatan sehari-hari diluar jam kerja. Sesekali harus menanyakan kesehatan anggota keluarga karyawan ( anak, istri, orang tua, adik, kakak dll ) , hobi, olah raga atau lagu kesukaannya.
4. Jangan menahan ( menghutang ) bila hendak memberikan pujian atau dukungan. Misalnya ketika karyawan telah 90% menyelesaikan suatu pekerjaan, lakukan pujian saat itu. Jangan menunggu hingga selesai 100%.
5. Buatlah karyawan merasa spesial atau senang. Buatlah Motto “
SUDAHKAH ANDA MEMBUAT SESEORANG SENANG HARI INI “ atau “
SUDAHKAH ANDA MEMBUAT SESEORANG MERASA SPESIAL HARI INI “
Keduanya harus dilakukan, tidak sekedar tulisan dipampang di setiap sudut ruang, melainkan harus terpatri dalam hati.
PEOPLE KEEPER adalah solusi jitu atau jalan positif bagi para manager untuk hidup bersama para bawahannya. Seorang people keeper harus siap mengatur diri untuk hidup bersama mereka. Siap memanage kehidupan dirinya untuk orang lain dan bukan memanage orang lain demi dirinya.
BE THE BEST BOSS :
1. Buatlah sederet penilaian teamwork yang jelas : baik - sedang - buruk - sangat buruk.
2. Bersikaplah selalu positif thinking
3. Berhati-hatilah dengan orang yang mencuri kebahagiaan Anda
4. Tidak mudah merasa seolah direndahkan oleh karyawan hanya gara-gara dekat dengan mereka yang berlevel paling rendah
5. Perhatikan ketika karyawan sedang didera tekanan ( dikejar deadline ) kunjungi mereka, belikan oleh-oleh berupa makanan atau minuman ala kadarnya.
6. Sering-sering mengobrol bersama bawahan ( bagunlah suasana keterbukaan ) melalui meeting atau bercanda di luar jam kerja ( olah raga, jalan-jalan, dll )
7. Perlakukan mereka sebagai partner yang setara
8. Dengarkan pembicaraan karyawan dan itu ternyata sangat perlu. Karena dengan menjadi pendengar setia, akan menjadi indikator adanya ketertarikan Anda atas pembicaraan mereka

PENTINGNYA STANDARD
Tanpa standard yang jelas seseorang akan membuat standar sendiri-sendiri.

MANAGER HARUS PAHAM BETUL DENGAN STANDARD YANG DI BERLAKUKAN DALAM PERUSAHAAN DAN HARUS BERANI MENJADI CONTOH TERLEBIH DAHULU

APLIKASI DELAPAN STANDARD TEAMWORK & KOMUNIKASI
Tujuan :
Dengan mengaplikasikan 8 standar teamwork & komunikasi, diharapkan seluruh karyawan mampu mengaplikasikan visi, misi perusahaan dengan baik
STANDAR TEAMWORK & KOMUNIKASI
1. PLANNING AND ORGANIZATION
Membuat rencana dengan metode smart
INDIKATOR : Semua karyawan mampu membuat rencana yang smart.
2. PROBLEM SOLVING
Mengidentifikasi masalah dan membuat langkah-langkah alternatif ( solving )
INDIKATOR: Kepercayaan diri meningkat.
3. TRUST
Memberi kepercayaan ( tugas ), dukungan, bimbingan dan arahan.
INDIKATOR : Timbul kekompakan dan kesolidan team
4. POSITIVE WORK CLIMATE
Membudayakan wajah selalu senyum melalui slogan humor atau iringan musik
Membudayakan tebar salam dan tegur sapa
INDIKATOR : Ceria
5. SOMEBODY / NOBODY / ANYBODY
Peduli melakukan sesuatu lebih awal dari orang lain ketika melihat sesuatu yang dipandang akan menimbulkan kerugian bagi semua orang.
INDIKATOR : Kepuasan, karena melakukan tindakan peduli
6. COOPERATION
Menentukan sasaran team
INDIKATOR : Pelimpahan wewenang
7. DIRECTION / GOALS
Menetapkan tujuan masing-masing team dengan mengetahui posisi awal. Membuat kesepakatan untuk menentukan goal
INDIKATOR : Semangat kerja karyawan tinggi
8. COMMITMENT
Membuat sangsi sosial dan administratif
INDIKATOR : Anggota merasa enggan keluar dari komitmen
9. DECISIVENESS
Membuat struktur organisasi yang jelas. Melatih kader
INDIKATOR :Tidak terjadi kerancuan ketika atasan tidak hadir.
Yang diperlukan oleh para manager untuk mengikat 8 standar Teamwork & Comunication :
Yang diperlukan manager adalah mengimplentasikan secara langsung dan memulai dari diri sendiri terlebih dahulu.
8 standar ini harus di pasang di setiap sudut dan harus ditekankan kepada seluruh anggota untuk melakukannya.
Mendiskusikannya kepada anggota melalui rapat atau pengarahan.
Anggota team harus didoktrin setiap hari dan terus menerus.
Pemahaman & pengaplikasian 8 Standar Teamwork & komunikasi
1. Planning & organization ( mampu melaksanakan semua tugas-tugasnya menggunakan metode SMART.
2. Problem solving ( mampu memecahkan masalah dengan langkah-langkah alternatif )
3. Positive work climate ( Mampu bersikap selalu ceria )
4. Open communication ( memenuhi undangan rapat, pandai membangun komunikasi dg seluruh karyawan)
5. Direction / goals ( Membuat kesepakatan untuk menentukan goal. Artinya peduli mengukur kemampuan sendiri dan berusaha merubah menjadi lebih baik menggunakan goal )
6. Integrity / honesty ( Tulus untuk tidak pernah mengeluh. Ramah ketika menjawab sapaan orang atau menerima telpon. Jujur ketika berjanji atau amanat menyimpan barang milik konsumen yang ketinggalan. Ikhlas untuk tidak keberatan menuruti permintaan orang lain
7. Somebody / Nobody / Everybody ( peduli melakukan sesuatu lebih awal dari orang lain terutama terhadap hal-hal yang disinyalir bakal menimbulkan dampak negatif )
8. Trust ( mampu dengan sepenuh hati memberikan kepercayaan, dukungan dan amanah kepada orang lain.)
People keeper adalah THE ONLY ONE WAY satu cara terbaik untuk hidup dengan orang lain
Manager harus mampu menjadi model.
People keeper tidak boleh menyesali masa lalu yang kurang menyenangkan akan tetapi memulai dari sekarang. Lakukan perbaikan 1% saja dalam sehari, tidak perlu sampai hari yang ke 100, cukup sampai hari yang ke 70 saja.
Moto : “ Karakter seorang raja akan tampak dari kerajaannya “.

 Artkel ini saya peroleh dari hrd Cipta

MARI SALING MELENGKAPI

“Saya ndak punya kepandaian, jadi hanya bisa bekerja seperti ini,” kata seorang tukang sol sepatu di hadapan saya, saat ia mampir di pos satpam tempat saya nongkrong. Baru saja ia mampir ke warteg ujung tempat biasa saya makan, dan sekarang mampir di pos satpam karena saya sendiri yang memanggilnya untuk sol sepatu. Emak, si empunya warung tak lain adalah saudara iparnya. Dari perkataannya, nampak ia berusaha membandingkan profesinya dengan profesi saya.

“Lha, kalau tidak ada tukang sol sepatu, lantas siapa yang akan mengesol sandal atau sepatu orang?” jawab saya sederhana.

Sahabat, barangkali kita temasuk orang yang suka mengeluh dengan profesi kita. Tidak jarang kita membanding-bandingkan profesi kita dengan profesi orang lain. “Kok dia lebih beruntung ya..” gumam kita dalam hati. Ssssssssttttt, jangan-jangan orang lain tersebut juga membandingkan profesinya dengan profesi kita. Dia juga merasa kalah dengan kita. Uppssszzz, berarti saling membandingkan donk!

Yah, sebenarnya boleh saja kita membandingkannya, asal bukan menjadi bahan untuk kita mengeluh, merasa kalah nan tidak berguna. Melainkan, semakin membuat kita lebih bersemangat untuk menjadi lebih baik. Sementara, diri dan profesi kita saat ini adalah satu bagian yang harus disyukuri keberadaannya. Coba bayangkan, kalau saja kita tidak ada di lingkungan kita saat ini. Wah, pasti suasananya akan aman, tentram, dan damai. Hehe.. Itu kalau kita bukan termasuk orang yang baik. Tapi kalau kita termasuk orang yang selalu berusaha berbuat baik (bukan merasa baik lho ya..) pasti keberadaan kita akan selalu dibutuhkan.

Sama halnya dengan tukang sol sepatu di atas, meskipun hanya sebatas tukang sol, selama ia mengerjakan pekerjaannya  dengan baik, pasti keberadaannya akan dibutuhkan orang lain. Coba bayangkan lagi, jika tidak ada tukang sol, siapa yang akan membenarkan sepatu atau sandal jika rusak ? ya bisa aja bapakmu, embahmu, pakdemu, dan sebagainya. hehe.. Maksud saya, keberadaan tukang sol tetap dibutuhkan oleh masyarakat, baik yang miskin maupun yang kaya.

Di sisi lain, kita tidak sepatutnya meremehkan tukang sol, atau profesi lain yang semisal dengannya. Kebanyakan dari kita cenderung meremehkan mereka; tukang sampah, tukang sapu, tukang parkir, satpam, dan profesi-profesi kecil lainnya. Maaf, saya tidak bermaksud meremehkan mereka dengan sebutan ‘profesi kecil’, karena yang saya tahu gaji mereka memang kecil. Tukang sampah di tempat saya tinggal sekarang, digaji hanya Rp. 175.000/bulan ( informasi didapat dari wawancara kepada tukang sampah ) wakakakakakakkak. Besar atau kecil?
Atau satpam di kantor tempat saya bekerja, digaji Rp. Tiiiiiiiitttttttt……/bulan.  Ya memang jauh lebih besar dibanding tukang sampah tadi. Itu pun terkadang masih mendapat bonus perlakuan tidak mengenakkan dari pembesar-pembesar di kantor.
  
“Kamu tidak kenal siapa saya?” bentak seseorang saat ditanya oleh satpam kantor.
“Karena saya tidak tahu, makanya saya nanya,” jawab satpam dengan entengnya.

Hey, ini nyata, seorang satpam kantor  pernah bercerita kepada saya. Bagaimana perasaan kita seandainya kita berada pada posisi satpam tersebut? sakit hati kan? Menjadi orang besar, bukan berarti harus merasa besar dan boleh meremehkan yang kecil. Karena besar dan kecil adalah dua kata yang saling melengkapi. Demikian juga dengan kaya dan miskin. Keduanya harus saling melengkapi. Juga antara laki-laki dan perempuan, pun harus saling melengkapi. *ndaknyambung

Lantas, siapa kira-kira yang kelak melengkapi hidup saya?? hehehe.

Senin, 18 November 2013

10 KRITERIA PEMIMPIN MENURUT AJARAN ISLAM

Setiap manusia yang terlahir dibumi dari yang pertama hingga yang terakhir adalah seorang pemimpin, setidaknya ia adalah seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Bagus tidaknya seorang pemimpin pasti berimbas kepada apa yang dipimpin olehnya. Karena itu menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena kelak Allah akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu. Dalam Islam sudah ada aturan-aturan yang berkaitan tentang pemimpin yang baik diantaranya :
1. Beriman dan Beramal Shaleh Ini sudah pasti tentunya. Kita harus memilih pemimpin orang yang beriman, bertaqwa, selalu menjalankan perintah Allah dan rasulnya. Karena ini merupakan jalan kebenaran yang membawa kepada kehidupan yang damai, tentram, dan bahagia dunia maupun akherat. Disamping itu juga harus yang mengamalkan keimanannya itu yaitu dalam bentuk amal soleh.
2. Niat yang Lurus
Hendaklah saat menerima suatu tanggung jawab, dilandasi dengan niat sesuai dengan apa yang telah Allah perintahkan. Karena suatu amalan itu bergantung pada niatnya, itu semua telah ditulis dalam H.R bukhari-muslim Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb r.a, dia menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:


“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” 
Karena itu hendaklah menjadi seorang pemimpin hanya karena mencari keridhoan ALLAH saja dan sesungguhnya kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan.
3. Laki-Laki
Dalam Al-qur'an surat An nisaa' (4) :34 telah diterangkan bahwa laki laki adalah pemimpin dari kaum wanita.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara “
(mereka; maksudnya, Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik).
Ayat ini menegaskan tentang kaum lelaki adalah pemimpin atas kaum wanita. Menurut Imam Ibnu Katsir, lelaki itu adalah pemimpin wanita, hakim atasnya, dan pendidiknya. Karena lelaki itu lebih utama dan lebih baik, sehingga kenabian dikhususkan pada kaum lelaki, dan demikian pula kepemimpinan tertinggi. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.”(Hadits Riwayat Al-Bukhari dari Hadits Abdur Rahman bin Abi Bakrah dari ayahnya).
4. Tidak Meminta Jabatan
Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,

”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim) 
5. Berpegang pada Hukum Allah
Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin.
Allah berfirman,

”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al-Maaidah:49).
6. Memutuskan Perkara Dengan Adil
Rasulullah bersabda,

”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir). 
7. Menasehati rakyat
Rasulullah bersabda,

”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”

8. Tidak Menerima Hadiah
Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati.Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya. Rasulullah bersabda,

” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani). 
9. Tegas
ini merupakan sikap seorang pemimpin yang selalu di idam-idamkan oleh rakyatnya. Tegas bukan berarti otoriter, tapi tegas maksudnya adalah yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah serta melaksanakan aturan hukum yang sesuai dengan Allah, SWT dan rasulnya.

10. Lemah Lembut
Doa Rasullullah :

"Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya"
Selain poin- poin yang ada di atas seorang pemimpin dapat dikatakan baik bila ia memiliki STAF. STAF disini bukanlah staf dari pemimpin, melainkan sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tersebut. STAF yang dimaksud di sini adalah Sidiq(jujur), Tablig(menyampaikan), amanah(dapat dipercaya), fatonah(cerdas)
Sidiq itu berarti jujur.

Bila seorang pemimpin itu jujur maka tidak adalagi KPK karena tidak adalagi korupsi yang terjadi dan jujur itu membawa ketenangan, kitapun diperintahkan jujur walaupun itu menyakitkan.Tablig adalah menyampaikan, menyampaikan disini dapat berupa informasi juga yang lain. Selain menyampaikan seorang pemimpin juga tidak boleh menutup diri saat diperlukan rakyatnya karena Rasulullah bersabda,

”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).
Amanah berarti dapat dipercaya. Rasulullah bersabda,
” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim). 
Karena itu seorang pemimpin harus ahli sehingga dapat dipercaya.Fatonah ialah cerdas. Seorang pemimpin tidak hanya perlu jujur, dapat dipercaya, dan dapat menyampaikan tetapi juga cerdas. Karena jika seorang pemimpin tidak cerdas maka ia tidak dapat menyelesaikan masalah rakyatnya dan ia tidak dapat memajukan apa yang dipimpinnya.
Setelah kita mengetahui sebagian ciri- ciri pemimpin menurut islam. Marilah kita memilih dan membuat diri kita mendekati bahkan jika bisa menjadi seperti ciri- ciri pemimpin diatas karena kita merupakan generasi pemimpin umat dan bangsa :)



SUMBER : http://www.jurukunci.net/2012/07/10-kriteria-pemimpin-menurut-ajaran.html

PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN SECARA ISLAM

Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan dua elemen yang saling berkaitan. Artinya, kepemimpinan (style of the leader) merupakan cerminan dari karakter/perilaku pemimpinnya (leader behavior). Perpaduan atau sintesis antara “leader behavior dengan leader style” merupakan kunci keberhasilan pengelolaan organisasi; atau dalam skala yang lebih luas adalah pengelolaan daerah atau wilayah, dan bahkan Negara.
 
Banyak pakar manajemen yang mengemukakan pendapatnya tentang kepemimpinan. Dalam hal ini dikemukakan George R. Terry (2006 : 495), sebagai berikut: “Kepemimpinan adalah kegiatan-kegiatan untuk mempengaruhi orang orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela.”
 
Dari defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kepemimpinan ada keterkaitan antara pemimpin dengan berbagai kegiatan yang dihasilkan oleh pemimpin tersebut. Pemimpin adalah seseorang yang dapat mempersatukan orang-orang dan dapat mengarahkannya sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh seorang pemimpin, maka ia harus mempunyai kemampuan untuk mengatur lingkungan kepemimpinannya.
 
Kepemimpinan menurut Halpin Winer yang dikutip oleh Dadi Permadi (2000 : 35) bahwa : “Kepemimpinan yang menekankan dua dimensi perilaku pimpinan apa yang dia istilahkan “initiating structure” (memprakarsai struktur) dan “consideration” (pertimbangan). Memprakarsai struktur adalah perilaku pemimpin dalam menentukan hubungan kerja dengan bawahannya dan juga usahanya dalam membentuk pola-pola organisasi, saluran komunikasi dan prosedur kerja yang jelas. Sedangkan pertimbangan adalah perilaku pemimpin dalam menunjukkan persahabatan dan respek dalam hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya dalam suatu kerja.”
 
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan:
bahwa kepemimpinan adalah “proses mempengaruhi aktivitas seseorang atau kelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.”
 
Dari defenisi kepemimpinan itu dapat disimpulkan bahwa proses kepemimpinan adalah fungsi pemimpin, pengikut dan variabel situasional lainnya. Perlu diperhatikan bahwa defenisi tersebut tidak menyebutkan suatu jenis organisasi tertentu. Dalam situasi apa pun dimana seseorang berusaha mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok, maka sedang berlangsung kepemimpinan dari waktu ke waktu, apakah aktivitasnya dipusatkan dalam dunia usaha, pendidikan, rumah sakit, organisasi politik atau keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan negara.
 
Sedangkan George R Terry (2006 : 124), mengemukakan 8 (delapan) ciri mengenai kepemimpinan dari pemimpin yaitu :
(1) Energik, mempunyai kekuatan mental dan fisik;
(2) Stabilitas emosi, tidak boleh mempunyai prasangka jelek terhadap bawahannya, tidak cepat marah dan harus mempunyai kepercayaan diri yang cukup besar;
(3) Mempunyai pengetahuan tentang hubungan antara manusia;
(4) Motivasi pribadi, harus mempunyai keinginan untuk menjadi pemimpin dan dapat memotivasi diri sendiri;
(5) Kemampuan berkomunikasi, atau kecakapan dalam berkomunikasi dan atau bernegosiasi;
(6) Kemamapuan atau kecakapan dalam mengajar, menjelaskan, dan mengembangkan bawahan;
(7) Kemampuan sosial atau keahlian rasa sosial, agar dapat menjamin kepercayaan dan kesetiaan bawahannya, suka menolong, senang jika bawahannya maju, peramah, dan luwes dalam bergaul;
(8) Kemampuan teknik, atau kecakapan menganalisis, merencanakan, mengorganisasikan wewenang, mangambil keputusan dan mampu menyusun konsep.
 
Kemudian, kepemimpinan yang berhasil di abad globalisasi menurut Dave Ulrich adalah: “Merupakan perkalian antara kredibilitas dan kapabilitas.” Kredibilitas adalah ciri-ciri yang ada pada seorang pemimpin seperti kompetensi-kompetensi, sifatsifat, nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang bisa dipercaya baik oleh bawahan maupun oleh lingkungannya.
Sedangkan kapabilitas adalah kamampuan pemimpin dalam menata visi, misi, dan strategi serta dalam mengembangkan sumber-sumber daya manusia untuk kepentingan memajukan organisasi dan atau wilayah kepemimpinannya.” Kredibilitas pribadi yang ditampilkan pemimpin yang menunjukkan kompetensi seperti mempunyai kekuatan keahlian (expert power) disamping adanya sifat-sifat, nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang positif (moral character) bila dikalikan dengan kemampuan pemimpin dalam menata visi, misi, dan strategi organisasi/ wilayah yang jelas akan merupakan suatu kekuatan dalam menjalankan roda organisasi/wilayah dalam rangka mencapai tujuannya.
 
Kepemimpinan Dalam Islam
 
Kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan yang berdasarkan hukum Allah. Oleh karena itu, pemimpin haruslah orang yang paling tahu tentang hukum Ilahi. Setelah para imam atau khalifah tiada, kepemimpinan harus dipegang oleh para faqih yang memenuhi syarat-syarat syariat. Bila tak seorang pun faqih yang memenuhi syarat, harus dibentuk ‘majelis fukaha’.”
Sesungguhnya, dalam Islam, figur pemimpin ideal yang menjadi contoh dan suritauladan yang baik, bahkan menjadi rahmat bagi manusia (rahmatan linnas) dan rahmat bagi alam (rahmatan lil’alamin) adalah Muhammad Rasulullah Saw., sebagaimana dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.
al-Ahzab [33]: 21).
 
Sebenarnya, setiap manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin terhadap seluruh metafisik dirinya. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas segala kepemimpinannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Saw., yang maknanya sebagai berikut :
 
“Ingatlah! Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin bagi kehidupan rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya. Ingatlah! Bahwa kalian adalah sebagai pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban
tentang kepemimpinannya,” (Al-Hadits).

Kemudian, dalam Islam seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kurangnya 4 (empat) sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yakni : Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah (STAF):
(1) Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya;
(2) Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi;
(3) Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya;
(4) Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya.
 
Selain itu, juga dikenal ciri pemimpin Islam dimana Nabi Saw pernah bersabda: “Pemimpin suatu kelompok adalah pelayan kelompok tersebut.” Oleh sebab itu, pemimpin hendaklah ia melayani dan bukan dilayani, serta menolong orang lain untuk maju.
Dr. Hisham Yahya Altalib (1991 : 55), mengatakan ada beberapa ciri penting yang menggambarkan kepemimpinan Islam yaitu :
 
Pertama, Setia kepada Allah. Pemimpin dan orang yang dipimpin terikat dengan kesetiaan kepada Allah;
 
Kedua, Tujuan Islam secara menyeluruh. Pemimpin melihat tujuan organisasi bukan saja berdasarkan kepentingan kelompok, tetapi juga dalam ruang lingkup kepentingan Islam yang lebih luas;
 
Ketiga, Berpegang pada syariat dan akhlak Islam. Pemimpin terikat dengan peraturan Islam, dan boleh menjadi pemimpin selama ia berpegang teguh pada perintah syariah.
Dalam mengendalikan urusannya ia harus patuh kepada adab-adab Islam, khususnya ketika berurusan dengan golongan oposisi atau orang-orang yang tak sepaham;
 
Keempat, Pengemban amanat. Pemimpin menerima kekuasaan sebagai amanah dari Allah Swt., yang disertai oleh tanggung jawab yang besar. Al-Quran memerintahkan pemimpin melaksanakan tugasnya untuk Allah dan menunjukkan sikap yang baik kepada pengikut atau bawahannya.
 
Dalam Al-Quran Allah Swt berfirman :
“(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. al-Hajj [22]:41).

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah adanya prinsip-prinsip dasar dalam kepemimpinan Islam yakni : Musyawarah; Keadilan; dan Kebebasan berfikir. Secara ringkas penulis ingin mengemukakan bahwasanya pemimpin Islam bukanlah kepemimpinan tirani dan tanpa koordinasi. Tetapi ia mendasari dirinya dengan prinsip-prinsip Islam. Bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya secara obyektif dan dengan penuh rasa hormat, membuat keputusan seadil-adilnya, dan berjuang menciptakan kebebasan berfikir, pertukaran gagasan yang sehat dan bebas, saling kritik dan saling menasihati satu sama lain sedemikian rupa, sehingga para pengikut atau bawahan merasa senang mendiskusikan persoalan yang menjadi kepentingan dan tujuan bersama. Pemimpin Islam bertanggung jawab bukan hanya kepada pengikut atau bawahannya semata, tetapi yang jauh lebih penting adalah tanggung jawabnya kepada Allah Swt. selaku pengemban amanah kepemimpinan. Kemudian perlu dipahami bahwa seorang muslim diminta memberikan nasihat bila diperlukan, sebagaimana Hadits Nabi dari :Tamim bin Aws
meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Saw. pernah bersabda:
“Agama adalah nasihat.” Kami berkata: “Kepada siapa?”
Beliau menjawab: “Kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Pemimpin umat Islam dan kepada masyarakat kamu.”
Nah, kepada para pemimpin, mulai dari skala yang lebih kecil, sampai pada tingkat mondial, penulis hanya ingin mengingatkan, semoga tulisan ini bisa dipahami, dijadikan nasihat dan sekaligus dapat dilaksanakan dengan baik. Insya Allah. Amiin !
Itu saja. Dan terima kasih.
SUMBER: http://berkarya.um.ac.id/2011/05/01/pemimpinan-dan-kepemimpinan-menurut-islam/

Minggu, 10 November 2013

AKREDITASI SEKOLAH PENTING GAK SIH ???

Saat ini setiap lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta harus melakukan akreditasi. Kemendiknas sudah menetapkan bila suatu lembaga pendidikan tidak melakukan akreditasi maka lembaga tersebut dipertanyakan kelayakan dan mutu penyelenggaraan pendidikan, Dan jika sekolah melaksanakan akreditasi maka hasil yang akan dicapai anatar lain :
  1. acuan dalam upaya peningkatan mutu sekolah/madrasah dan rencana pengembangan sekolah/madrasah;
  2. umpan balik dalam usaha pemberdayaan dan pengembangan kinerja warga sekolah/madrasah dalam rangka menerapkan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, dan program sekolah/madrasah;
  3. motivator agar sekolah/madrasah terus meningkatkan mutu pendidikan secara bertahap, terencana, dan kompetitif baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional bahkan regional dan internasional; 
  4. bahan informasi bagi sekolah/madrasah sebagai masyarakat belajar untuk meningkatkan dukungan dari pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta dalam hal profesionalisme, moral, tenaga, dan dana; serta
  5. acuan bagi lembaga terkait dalam mempertimbangkan kewenangan sekolah/madrasah sebagai penyelenggara ujian nasional.



Akreditasi diperlukan untuk menjamin mutu dari suatu lembaga pendidikan. Selain itu untuk masyarakat umum, akreditasi juga bisa menjadi alat untuk mengukur kesiapan suatu lembaga pendidikan  dalam  melakukan proses pendidikan.
 
Tapi sayangnya saat ini masih banyak sekolah yang belum terakreditasi, termasuk beberapa sekolah negeri. Walaupun demikian jumlah sekolah  swasta yang belum terakreditasi jauh lebih banyak daripada sekolah negeri.

Salah satu alasannya adalah banyak sekolah swasta yang sudah keburu tutup karena memiliki jumlah siswa yang sedikit. Sebaiknya bukan sekolah yang ditutup melainkan pemerintah memberikan solusi terbaik untuk tetap terselenggaranya proses pendidikan.


Di lapangan ternyata dalam melakukan persiapan akreditasi, banyak ditemukan sekolah yang melakukan SISBUTLAM ( Sistem Kebut Semalam ), belum lagi yang melakukan persiapan asal-asalan karena tanpa akreditasi mereka sudah merasa cukup diminati, .

Apa saja yang dinilai?

Penilaian akreditasi meliputi:
  • Standar ISI
  • Standar Proses
  • Standar Kompetensi Kelulusan
  • Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
  • Standar Sarana dan Prasarana
  • Standar Pengelolaan
  • Standar Pembiayaan.
  • Standar Penilaian
Melihat point yang diakreditasi, tentunya membuat setiap sekolah tidak sembarang menyiapkan segala sesuatunya. Kesiapan dari kurikulum maupun tenaga pengajar serta tenanga pembantu non akademik juga diperhatikan. Belum lagi kesiapan secara administrasi yang sangat penting untuk berjalannya suatu organisasi.

Apakah penting?

Melihat tujuan dan cara penilaian, tentu saja akreditasi adalah penting (baca: sangat penting). Akreditasi adalah suatu bentuk standardisasi. Dalam rekayasa teknologi, penggunaan standard yang sama memungkinkan semua elemen yang berbeda bisa di integrasikan. Sebagai contoh misalnya saja ukuran ban mobil. Dengan adanya standard yang sama, berbagai perusahaan berbeda bisa membuat versi ban mobilnya sendiri, tapi tetap bisa dipasangkan ke suatu mobil.
Standardisasi pendidikan sangat penting bila kita menginginkan pendidikan kita maju. Dengan standard yang sama, maka lulusan sekolah yang  A, akan relatif sejajar dengan lulusan dari sekolah yang B.
Tapi apakah mudah dalam implementasinya? Tentunya tidak. Suatu lembaga pendidikan wajib berusaha mempersiapkan jumlah guru tetapnya. Hal ini menjadi masalah yang cukup berat untuk sekolah swasta yang masih baru, dan akhirnya banyak yang memiliki tenaga pendidik serta fasilitas seadanya. Hal ini akan menjadi masalah ketika masa akreditas berakhir. Berakhirnya masa akreditas mengharuskan suatu lembaga pendidikan  mempersiapkan kembali persyaratan untuk mendapatkan akreditas, dan bukan tidak mungkin akreditasi yang semula A menjadi turun. Dan dari 3006 sekolah dasar yang terdaftar di Jakarta, saat ini tercatat 779  sekolah dasar  harus kembali di akreditasi.
Jadi akreditasi ini penting untuk menjaga mutu. Program Studi yang tidak bisa menjaga kestabilan mutunya akan ‘jatuh’. Dan akhirnya masyarakatlah yang akan di untungkan. Tapi hingga saat ini masih ada nada miring tentang akreditasi ini, terutama protes dari pihak yang turun nilai akreditasinya. Jika memang mutu selalu terjaga maka seharusnya nilai akreditasi tidak turun. Bila dengan standard yang sama, tapi telah terjadi penurunan, pastilah ada yang salah.
 Tujuan dan Manfa’at Akreditasi

Bagi kepala sekolah/madrasah, hasil akreditasi diharapkan dapat dijadikan bahan informasi untuk pemetaan indikator kelayakan sekolah/madrasah, kinerja warga sekolah/madrasah, termasuk kinerja kepala sekolah/madrasah selama periode kepemimpinannya. Di samping itu, hasil akreditasi juga diperlukan kepala sekolah/ madrasah sebagai bahan masukan untuk penyusunan program serta anggaran pendapatan dan belanja sekolah/madrasah.

Bagi guru, hasil akreditasi merupakan dorongan untuk selalu meningkatkan diri dan bekerja keras dalam memberikan layanan terbaik bagi peserta didiknya guna mempertahankan dan meningkatkan mutu sekolah/madrasah. Secara moral, guru senang bekerja di sekolah/madrasah yang diakui sebagai sekolah/madrasah bermutu.

Bagi masyarakat dan khususnya orangtua peserta didik, hasil akreditasi diharapkan menjadi informasi yang akurat tentang layanan pendidikan yang ditawarkan oleh setiap sekolah/madrasah, sehingga secara sadar dan bertanggung jawab masyarakat dan khususnya orangtua dapat membuat keputusan dan pilihan yang tepat dalam kaitannya dengan pendidikan anaknya sesuai kebutuhan dan kemampuannya.

Bagi peserta didik, hasil akreditasi akan menumbuhkan rasa percaya diri bahwa mereka memperoleh pendidikan yang baik, dan harapannya, sertifikat dari sekolah/madrasah yang terakreditasi merupakan bukti bahwa mereka menerima pendidikan bermutu
(BAP - S/M PROVINSI DKI JAKARTA )