Senin, 08 Agustus 2016

Ujian Sekolah Menegangkan dan Menyeramkan ... ? Siapa bilang.... :)

Bagi sebagian murid dan bahkan orangtua..ujian sekolah atau test adalah hal yang sangat menegangkan. Karena dari hasil tes itulah akan terlihat nilai yang diperoleh dari hasil belajar selama ini. Tapi apakah pencapain hasil belajar hanya dilihat dari hasil tes saja ? .... Jika target pembelajaran hanya terpaku pada nilai dan menuntut murid untuk mencapai nilai tertinggi tanpa memperhatikan proses pembelajaran itu sendiri. Hal itulah yang mengakibatkan mindset murid dan orangtua menjadikan ujian atau tes sekolah adalah titik akhir dari sebuah perjuangan.

Tugas kita sebagai tenaga pendidik untuk merubah mindset itu. Bagaimana caranya agar ujian atau tes sekolah tidak ditakuti dah bahkan terkesan menyenangkan. Sehingga nantinya dalam pemikiran mereka bahwa ujian itu untuk belajar. Bukan belajar untuk ujian. Nah berikut beberapa tips yang akan admin share :

1. CIPTAKAN SUASANA KELAS YANG HOMEY
Sekolah adalah rumah kedua bagi murid - murid kita. Tugas kita bukan memaksa mereka untuk belajar. Akan tetapi menemani mereka dalam belajar. Suasana yang nyaman. Interaksi serta komunikasi yang baik. Akan membuat proses pembelajaran lebih efektif. Bukan hanya kenyamanan yang kita berikan. Melainkan motifasi dorongan agar mereka lebih percaya diri. menggali potensi. Meraih prestasi dan mau berkembang.

2. GUNAKAN METHODE PEMBELAJARAN YANG KREATIF
Bukan masanya lagi dimana seorang guru mengajar hanya berceramah. Atau hanya menulis di papan tulis. Atau pembelajaran hanya terpaku pada buku pegangan saja. Akan tetapi saat ini guru dituntut untuk lebih kreatif dalam mengkemas pembelajaran tersebut agar lebih menarik dan menyenangkan. Apapun bisa dijadikan media pembelajaran. Baik lembaga sekolah yang sederhana atau terbilang minim fasilitas. Terlebih lagi lembaga sekolah yang fasilitasnya lengkap. Jadi Tidak ada alasan untuk tidak berkreasi.

3. PENILAIAN DARI SEGALA ASPEK
Nilai ujian bukanlah satu satunya tolak ukur untuk mengetahui murid berhasil atau tidak dalam belajar. Melainkan hanya untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka dari materi yang sudah disampaikan oleh guru. Karena dalan proses pembelajaran tidak hanya materi pelajaran yang disampaikan oleh seorang guru. Akan tetapi banyak ilmu pengetahuan lainnya yang diberikan. Kedisiplinan. Kemandirian. Attitude dan lain - lain. Mereka menginjakkan kaki datang ke sekolah untuk belajar dan mendapatkan hal baru dalam hidup mereka disetiap harinya. Dan itu perlu diapresiasi oleh guru. Jadi penilaian tidak hanya diambil dari hasil tes materi saja. Yang terpenting adalah mereka mau menyelesaikan tanggung jawab yang sudah diberikan dan siap menerima konsuekensi apapun dari setiap yang dilakukan. " life education "

4. PENYAJIAN SOAL UJIAN YANG MENARIK
Mungkin sebagain dari para pendidik banyak yang tau bagaimana bentuk tes atau ujian sekolah di beberapa negara maju. Ada yang ujiannya hanya melakukan praktek. Ada yang ujian sekolahnya disesuaikan dengan kemampuan dan bakat siswa. Ada juga yang ujiannya tetap menggunakan paper test akan tetapi bentuk penyajiannya yang berbeda. Ada yang ujiannya memanfaatkan tekhnologi. Dan lain - lain. Nah dari situ kita bisa melihat bahwa betapa banyak variasi yang dilakukan agar murid nyaman dan senang mengikuti aktifitas ujian sekolah. Apakah kita masih akan tetap mempertahankan sistem test yang hanya dengan kertas putih. Pilihan ganda. Terkadang tulisannyapun kurang jelas karena photocopy soal yang kurang baik. Dan itu yang akan membuat murid kita merasa jenuh. Bosan. Dan mengakibatkan fikiran mereka buyar. Kurang fokus dalam mengerjakan soal. Cara seperti ini akan mengekang polapikir mereka. Tapi jika kita bisa menerapkan salah satu sistem ujian atau tes sekolah yang sudah dilakukan oleh beberapa negara maju. Maka nantinya mereka akan berfikir bahwa. Ujian Sekolah adalah kegiatan yang sangat dinantikan. Karena pada kesempatan itu mereka bisa memperlihatkan kemampuan hasil belajar mereka selama ini .baik itu akademik maupun non akademik.

#guruinspiratif  Sekolah Tunas Mekar Indonesia 2k16 / SMA Tunas Mekar Indonesia

Rabu, 03 Agustus 2016

" BELAJAR SAMBIL INTERNETAN....? WHY NOT ... :) "

Peran Media sosial bagi remaja

Media sosial telah menjadi sebuah sarana umum yang dipergunakan dalam kehidupan individu sehari-hari dan era baru dalam proses belajar mengajar (Rasmita Kalasi, 2014)[4]. Penyebaran informasi yang terjadi dalam kalangan remaja terbilang sangat cepat akibat media sosial, diungkapkan oleh Grant and meadows (2010) bahwa informasi dalam media sosial berkembang dan menyebar luas seperti virus dalam tubuh. Anak-anak pada usia remaja di Indonesia sangat cepat beradaptasi terhadap perkembangan teknologi yang ada saat ini. Maka, tidaklah mengherankan jika kita berada di pusat keramaian, kita dapat melihat para remaja yang saat ini minimal menggunakan sebuah perangkat digital untuk membantu aktivitas mereka.
Media sosial memiliki daya tariknya sendiri bagi setiap kalangan, begitupula dengan kalangan remaja. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh kementrian Kominfo dalam penelusuran para pengguna aktivitas online pada anak usia remaja tahun 2014, ditarik kesimpulan bahwa penggunaan media sosial sangat melekat dengan kehidupan remaja sehari-hari. Dalam studi ini ditemukan bahwa dari 98 persen remaja yang di survei tahu tentang internet dan 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet. Daya tarik internet dan media sosial inilah yang kemudian memegang peranan penting dalam membangun kemampuan berkomunikasi seseorang. Remaja saat ini begitu peka dengan perubahan yang terjadi dalam teknologi sosial, mereka mengikuti perkembangan tersebut dan menguasainya dengan proses belajar menggunakan metode “Trials and Error” (Rasmita Kalasi, 2014).
Pendidikan Remaja Indonesia

Pada dunia pendidikan remaja kini, proses belajar tidak lagi terfokus pada penyampaian informasi yang dibatasi dinding-dinding kelas. Ledakan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa jejaring sosial sangat popular pada perkembangan komunikasi saat ini (Rasmita Kalasi, 2014). Sosial media menciptakan sebuah budaya baru di mana para pengajar dan para peserta didiknya tidak hanya dapat melakukan proses belajar di dalam konteks ruangan secara fisik, namun karena munculnya media sosial memungkinkan proses pendidikan dilakukan dalam ruang lain secara maya.
Penggunaan sosial media secara formal dapat diartikan sebagai kombinasi antara belajar secara analog maupun secara online. Komunikasi media sosial yang terintegrasi dengan baik melahirkan lingkungan belajar yang baru, peran guru perlahan berubah karena adanya teknologi media yang berkembang. Rasmita Kalasi[4] (2014) mengungkapkan bahwa peran guru yang awalnya merupakan pemberi pengetahuan, kini berubah menjadi pihak yang menfasilitasi pembagian pengetahuan karena informasi dan ilmu yang didapat oleh para peserta didik tidak lagi hanya didapat dari guru saja.
Penggunaan media sosial sebagai pembangun kualitas pendidikan mulai digalakkan. Berdasarkan penelitian Rasmita Kalasi pada tahun 2014, diperoleh hasil bahwa 90 persen peserta didik yang duduk di tingkatan fakultas menggunakan sarana media sosial dalam belajar dan mengerjakan tugasnya atau menggunakan media sosial untuk membangun karier di luar dunia kelas formal. Pembangunan pendidikan remaja lewat media sosial dapat membuktikan bahwa setiap individu pada dasarnya butuh berkomunikasi dan terlibat di dalam sebuah komunitas, terlepas dari apapun bentuk komunitas yang ada (Rasmita Kalasi, 2014).

Setiap siswa remaja maupun mahasiswa yang terdorong untuk menggunakan media sosial sebagai salah satu media belajar perlu memiliki pemikiran yang kritis sebelum menggunakannya, serta dapat menyaring informasi yang diperoleh dalam internet dan media sosial. Pendidikan dengan tingkat yang lebih tinggi di Indonesia telah menerapkan sedikit demi sedikit pemanfaatan media sosial dan internet dalam ruang lingkup didikannya. Kehadiran Media sosial telah menjadi pelengkap dalam proses penyampaian informasi secara digital, namun kehadirannya tidak serta merta menggantikan posisi media belajar lain yang sifatnya analog seperti media cetak. Penggunaannya terbatas pada kemampuan pengguna yang belum mempuni, seperti jaringan internet yang masih sulit didapatkan pada daerah-daerah tertentu di Indonesia.



Referensi
^I'd.m.Wikipedia.org, Grant, A. E. & Meadows, J. H. 2010. Communication Technology Update and Fundamentals. 12th Edition. Focal Press.^ Selwyn, Neil. 2012. Social Media in Higher Education.^ Halpin,H. and Tuffield, M. 2010. Social web XG Wiki. World wide web consortium (W3C).^ a b Kalasi, Rasmita. 2014. The impact of Social Networking on New age Teaching and Learning: An Overview. Journal of education & social policy vol.1. Pict " Sekolah Tunas Mekar Indonesia Lampung. Grade XII 016" / SMA Tunas Mekar Indonesia