Tradisi mudik adalah tradisi Indonesia
yang saya rasa sangat unik. Tradisi ini rasanya tidak akan dijumpai di
negara-negara lain. Bahkan di negara-negara yang mayoritas penduduknya
adalah umat Islam, maka tradisi mudik ini tidak dijumpai. Yang ada
adalah tradisi silaturahmi yang memang sudah ada semenjak lama, yaitu
ketika Islam turun di Negara Arab. Jika
tradisi silaturahmi memang ada relevansi teksnya, misalnya Sabda Nabi
Muhammad saw, “man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri fal yashil
rahimah”. Yang artinya, bahwa “barang siapa mempercayai Allah dan hari
akhir, maka hendaknya menyambung tali silaturahmi”.
Kemudian, di dalam tradisi Jawa juga
didapatkan tradisi sungkeman, yaitu tradisi yang dilakukan oleh yang
lebih muda kepada yang lebih tua atau dari anak, cucu atau kerabat yang
lebih muda kepada yang lebih tua atau dituakan. Misalnya di dalam
tradisi mantenan atau perkawinan, dan bahkan ketika ada acara pertemuan
keluarga dan sebagainya.
Tradisi mudik adalah dialog antara
tradisi Islam dengan tradisi Jawa, yaitu tradisi silaturrahmi dengan
tradisi sungkeman di dalam tradisi Jawa. Jika di dalam tradisi Islam
memang didapatkan teks mengenai aktivitas untuk saling berkunjung ke
rumah, maka di dalam acara sungkeman yang khas Jawa adalah tradisi yang
sesungguhnya diprakarsai oleh para raja dan keturunannya, namun juga
menjadi tradisi masyarakat yang masih mengagungkan budaya Jawa. Hingga
kini tradisi ini memang masih menjadi pola bagi tindakan sebagian
masyarakat kita.
Tradisi mudik terjadi ketika seseorang
berada atau bekerja di luar daerah keluarga besarnya. Bukankah kita
ketahui bahwa yang banyak hidup di Jakarta, Surabaya, Jogyakarta,
Bandung, Semarang, Surakarta dan kota-kota besar lainnya adalah mereka
yang semula berasal dari seluruh pelosok di Indonesia. Makanya
jalur-jalur padat kendaraan pada musim mudik adalah pantai utara Jawa
dari Jakarta sampai Banyuwangi, Jalur selatan Bandung, Jogja, sampai
Pacitan dan jalur lintas Sumatera Lampung sampai ke Aceh.
Orang luar negeri mungkin tidak bisa
membayangkan bagaimana terjadi kemacetan sepanjang berpuluh-puluh
kilometer. Bukan hanya sekedar macet, akan tetapi juga banyak terjadi
kecelakaan. Kemacetan bukan hanya terjadi di jalur biasa bahkan di
jalan tol. Tidak hanya dua tiga jam, akan tetapi bisa enam tujuh jam.
Kemacetan seperti ini sungguh tidak akan
terjadi di luar negeri. Menurut saya bukan hanya karena jalan yang
sempit, akan tetapi memang jumlah pemudik juga terus bertambah seirama
dengan perbaikan kesejahteraan. Selain itu juga semakin banyaknya jumlah
kendaraan yang digunakan sebagai sarana transportasi darat.
Jika kita dengar dan lihat di layar
kaca, maka sungguh tradisi mudik adalah tradisi yang penuh tantangan.
Semua alat transportasi penuh sesak dengan penumpang. Bus antar
propinsi, kereta api dan penerbangan juga penuh sesak dengan penumpang.
Di terminal, di stasiun, di bandara semuanya penuh dengan penumpang dari
dan ke kota lain. Semuanya memiliki tujuan yang sama, mudik.
Selain kemacetan yang sangat tinggi,
juga factor cuaca yang kurang bersahabat. Bahkan juga banyaknya
kecelakaan di jalan raya. Namun demikian, tantangan ini seakan bukanlah
masalah. Kemacetan yang selalu dirasakannya, juga tidak menyurutkan niat
seseorang untuk mudik. Pengalaman setiap tahun yang selalu berkubang
kemacetan ternyata juga tidak mengurangi sedikitpun keinginan untuk
mudik.
Mungkin bagi orang luar negeri,
perjalanan mudik adalah penyiksaan dan bahkan pengalaman yang traumatic.
Akan tetapi kemacaten bagi para pelaku mudik adalah bagian dari tradisi
mudik. Bahkan jika seandainya mudik tanpa macet, maka tradisi mudik
menjadi kurang bermakna. Justru mudik yang penuh dengan kemacetan dan
kesulitan itu bisa dilampaui maka rasa mudik menjadi sebuah cerita yang
menarik.
Maka memikirkan mudik tanpa macet
rasanya juga tidak menjadi signifikan. Yang penting adalah bagaimana
mengatur agar ketika terjadi kemacetan mereka tetap nyaman
berkendaraan. Hanya saja yang diperlukan adalah bagaimana menihilkan
kecelakaan di saat mudik. Oleh karena itu, yang diperlukan adalah
memenej perjalanan kendaraan agar sesuai dengan aturan.
Jadi, tradisi mudik merupakan tradisi
yang khas dan kemacetan di dalam tradisi mudik juga menjadi bagian dari
festival mudik yang memang harus terjadi.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar