Kamis, 21 November 2013

MARI SALING MELENGKAPI

“Saya ndak punya kepandaian, jadi hanya bisa bekerja seperti ini,” kata seorang tukang sol sepatu di hadapan saya, saat ia mampir di pos satpam tempat saya nongkrong. Baru saja ia mampir ke warteg ujung tempat biasa saya makan, dan sekarang mampir di pos satpam karena saya sendiri yang memanggilnya untuk sol sepatu. Emak, si empunya warung tak lain adalah saudara iparnya. Dari perkataannya, nampak ia berusaha membandingkan profesinya dengan profesi saya.

“Lha, kalau tidak ada tukang sol sepatu, lantas siapa yang akan mengesol sandal atau sepatu orang?” jawab saya sederhana.

Sahabat, barangkali kita temasuk orang yang suka mengeluh dengan profesi kita. Tidak jarang kita membanding-bandingkan profesi kita dengan profesi orang lain. “Kok dia lebih beruntung ya..” gumam kita dalam hati. Ssssssssttttt, jangan-jangan orang lain tersebut juga membandingkan profesinya dengan profesi kita. Dia juga merasa kalah dengan kita. Uppssszzz, berarti saling membandingkan donk!

Yah, sebenarnya boleh saja kita membandingkannya, asal bukan menjadi bahan untuk kita mengeluh, merasa kalah nan tidak berguna. Melainkan, semakin membuat kita lebih bersemangat untuk menjadi lebih baik. Sementara, diri dan profesi kita saat ini adalah satu bagian yang harus disyukuri keberadaannya. Coba bayangkan, kalau saja kita tidak ada di lingkungan kita saat ini. Wah, pasti suasananya akan aman, tentram, dan damai. Hehe.. Itu kalau kita bukan termasuk orang yang baik. Tapi kalau kita termasuk orang yang selalu berusaha berbuat baik (bukan merasa baik lho ya..) pasti keberadaan kita akan selalu dibutuhkan.

Sama halnya dengan tukang sol sepatu di atas, meskipun hanya sebatas tukang sol, selama ia mengerjakan pekerjaannya  dengan baik, pasti keberadaannya akan dibutuhkan orang lain. Coba bayangkan lagi, jika tidak ada tukang sol, siapa yang akan membenarkan sepatu atau sandal jika rusak ? ya bisa aja bapakmu, embahmu, pakdemu, dan sebagainya. hehe.. Maksud saya, keberadaan tukang sol tetap dibutuhkan oleh masyarakat, baik yang miskin maupun yang kaya.

Di sisi lain, kita tidak sepatutnya meremehkan tukang sol, atau profesi lain yang semisal dengannya. Kebanyakan dari kita cenderung meremehkan mereka; tukang sampah, tukang sapu, tukang parkir, satpam, dan profesi-profesi kecil lainnya. Maaf, saya tidak bermaksud meremehkan mereka dengan sebutan ‘profesi kecil’, karena yang saya tahu gaji mereka memang kecil. Tukang sampah di tempat saya tinggal sekarang, digaji hanya Rp. 175.000/bulan ( informasi didapat dari wawancara kepada tukang sampah ) wakakakakakakkak. Besar atau kecil?
Atau satpam di kantor tempat saya bekerja, digaji Rp. Tiiiiiiiitttttttt……/bulan.  Ya memang jauh lebih besar dibanding tukang sampah tadi. Itu pun terkadang masih mendapat bonus perlakuan tidak mengenakkan dari pembesar-pembesar di kantor.
  
“Kamu tidak kenal siapa saya?” bentak seseorang saat ditanya oleh satpam kantor.
“Karena saya tidak tahu, makanya saya nanya,” jawab satpam dengan entengnya.

Hey, ini nyata, seorang satpam kantor  pernah bercerita kepada saya. Bagaimana perasaan kita seandainya kita berada pada posisi satpam tersebut? sakit hati kan? Menjadi orang besar, bukan berarti harus merasa besar dan boleh meremehkan yang kecil. Karena besar dan kecil adalah dua kata yang saling melengkapi. Demikian juga dengan kaya dan miskin. Keduanya harus saling melengkapi. Juga antara laki-laki dan perempuan, pun harus saling melengkapi. *ndaknyambung

Lantas, siapa kira-kira yang kelak melengkapi hidup saya?? hehehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar