“Saya ndak punya kepandaian, jadi hanya bisa bekerja seperti ini,”
kata seorang tukang sol sepatu di hadapan saya, saat ia mampir di pos satpam
tempat saya nongkrong. Baru saja ia mampir ke warteg ujung tempat biasa saya
makan, dan sekarang mampir di pos satpam karena saya sendiri yang
memanggilnya untuk sol sepatu. Emak, si empunya warung tak lain adalah
saudara iparnya. Dari perkataannya, nampak ia berusaha membandingkan profesinya
dengan profesi saya.
“Lha, kalau tidak ada tukang sol sepatu, lantas siapa
yang akan mengesol sandal atau sepatu orang?” jawab saya sederhana.
Sahabat, barangkali kita temasuk orang yang suka mengeluh dengan profesi
kita. Tidak jarang kita membanding-bandingkan profesi kita dengan profesi orang
lain. “Kok dia lebih beruntung ya..” gumam kita dalam hati. Ssssssssttttt,
jangan-jangan orang lain tersebut juga membandingkan profesinya dengan profesi
kita. Dia juga merasa kalah dengan kita. Uppssszzz, berarti saling membandingkan
donk!
Yah, sebenarnya boleh saja kita membandingkannya, asal bukan menjadi bahan
untuk kita mengeluh, merasa kalah nan tidak berguna. Melainkan, semakin membuat
kita lebih bersemangat untuk menjadi lebih baik. Sementara, diri dan profesi
kita saat ini adalah satu bagian yang harus disyukuri keberadaannya. Coba
bayangkan, kalau saja kita tidak ada di lingkungan kita saat ini. Wah, pasti
suasananya akan aman, tentram, dan damai. Hehe.. Itu kalau kita bukan termasuk
orang yang baik. Tapi
kalau kita termasuk orang yang selalu berusaha berbuat baik (bukan merasa baik
lho ya..) pasti keberadaan kita akan selalu dibutuhkan.
Sama halnya dengan tukang sol sepatu di atas, meskipun hanya sebatas tukang sol,
selama ia mengerjakan pekerjaannya dengan baik, pasti keberadaannya akan
dibutuhkan orang lain. Coba bayangkan lagi, jika tidak ada tukang sol, siapa
yang akan membenarkan sepatu atau sandal jika rusak ? ya bisa aja bapakmu,
embahmu, pakdemu, dan sebagainya. hehe.. Maksud saya, keberadaan tukang sol
tetap dibutuhkan oleh masyarakat, baik yang miskin maupun yang kaya.
Di sisi lain, kita tidak sepatutnya meremehkan tukang sol, atau profesi lain
yang semisal dengannya. Kebanyakan dari kita cenderung meremehkan mereka;
tukang sampah, tukang sapu, tukang parkir, satpam, dan profesi-profesi kecil
lainnya. Maaf, saya tidak bermaksud meremehkan mereka dengan sebutan ‘profesi
kecil’, karena yang saya tahu gaji mereka memang kecil. Tukang sampah di tempat
saya tinggal sekarang, digaji hanya Rp. 175.000/bulan ( informasi didapat dari
wawancara kepada tukang sampah ) wakakakakakakkak. Besar atau kecil?
Atau satpam di kantor tempat saya bekerja, digaji Rp. Tiiiiiiiitttttttt……/bulan.
Ya memang jauh lebih besar dibanding
tukang sampah tadi. Itu pun terkadang masih mendapat bonus perlakuan tidak mengenakkan dari
pembesar-pembesar di kantor.
“Kamu tidak kenal siapa saya?” bentak seseorang saat ditanya oleh satpam
kantor.
“Karena saya tidak tahu, makanya saya nanya,” jawab satpam dengan
entengnya.
Hey, ini nyata, seorang satpam kantor pernah bercerita kepada saya. Bagaimana
perasaan kita seandainya kita berada pada posisi satpam tersebut? sakit hati kan? Menjadi orang
besar, bukan berarti harus merasa besar dan boleh meremehkan yang kecil. Karena
besar dan kecil adalah dua kata yang saling melengkapi. Demikian juga dengan
kaya dan miskin. Keduanya harus saling melengkapi. Juga antara laki-laki dan
perempuan, pun harus saling melengkapi. *ndaknyambung
Lantas, siapa kira-kira yang kelak melengkapi hidup saya?? hehehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar