Jumat, 24 Januari 2014

MURID PINTAR BELUM TENTU SUKSES




 Berbicara masalah Lembaga Pendidikan pasti tidak luput dari yang namanya guru dan murid. nahhh sekarang kita mau berbicara mengenai murid2, ada 3 kategori: murid pintar, murid standar, dan murid lemah. Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya masuk dalam kategori pertama, yaitu pintar dan menghindari kategoriyang terakhir atau murid lemah. Seringkali kita (orangtua) mendaftarkan anak untuk kursus ini dan itu ,bahkan mendatangkan guru privat ke rumah agar nilainya menjadi bagus.

            Secara tidak langsung berarti kita memfokuskan pada “kelemahan” si anak dan berusaha “menutupi” kelemahannya tersebut dengan kursus dan sebagainya. Sebagai contoh, anak kita suka bermain music, akan tetapi nilai matematikanya tidak bagus. Sementara financial kita hanya cukup untuk membiayai 1 jenis kursus, maka kursus apa yang akan kita berikan kepada anak? Penulis yakin Anda akan menjawab: “kursus matematika ”.

            Perlu diketahui, murid yang pintar biasanya adalah tipe yang aktif dan kritis dalam belajar, mereka takut kalau tidak bisa mengerjakan ujian, stres jika mendapat nilai jelek. Tipe murid seperti inilah yang biasanya ikut kursus ini dan itu, karena menginginkan “SEMUA” pelajarannya mendapat nilai baik.

Murid yang lemah biasanya adalah tipe orang yang “masa bodoh”, mereka tidak terlalu memikirkan akan mendapat nilai berapa. Tipe seperti ini biasanya mempunyai “SESUATU” yang sangat mereka sukai dan mereka lebih suka melakukan hal itu ketimbang belajar. Sedangkan murid standar berada di antara 2 kategori itu. Di kemudian hari, siapakah yang akan sukses atau kaya dalam kehidupannya? Apakah murid pintar, murid standar, atau murid lemah ?

Sukses di sini beda artinya dengan kaya. Menjadi kaya berarti mempunyai banyak uang, sedangkan sukses berarti mengerjakan hal yang mereka sukai dan  mereka menyukai apa yang mereka kerjakan, dan orang-orang menghargai apa yang mereka kerjakan. Dalam banyak kasus, banyak murid yang dulu “lemah” semasa sekolah dan kuliah akhirnya menjadi orang yang sukses plus kaya. Sedangkan murid yang dulu “pintar” banyak juga yang menjadi kaya tapi sedikit yang sukses. Mengapa demikian? Karena dari kecil murid yang lemah sudah terbiasa FOKUS pada POTENSI yang dimiliki, dan tidak terlalu peduli dengan kelemahannya. Sedangkan murid yang pintar biasanya mengabaikan potensi yang dimilikinya, mereka lebih suka memperbaiki kelemahannya seperti jika nilai matematikanya jelek maka untuk memperbaiki nilainya mereka kursus matematika.

Sebagai contoh nyata dari tipe murid lemah yang akhirnya menjadi orang sukses. Sebut saja namanya A dan B, keduanya pernah tinggal kelas dan termasuk murid yang tidak peduli dengan nilai bagus. Sekarang si A menjadi pelukis terkenal dan si B menjadi musisi kondang. Mengapa? Karena si A dan si B ini selalu fokus pada potensi yang dimiliki ketimbang memperbaiki belasan kelemahannya, yaitu mengasah kemampuannya di bidang yang mereka sukai: melukis dan bermusik.

Contoh lain adalah Deddy Corbuzier yang semasa sekolah juga tidak termasuk murid yang cemerlang, tetapi sejak kecil telah menunjukkan kecintaannya yang mendalam dan mendalami dunia sulap. Sekarang, siapa yang tidak mengenal Deddy Corbuzier. Rhenald Khasali, beliau pernah tinggal kelas sewaktu sekolah tetapi sekarang merupakan salah satu pembicara handal. Joni Ariadinata pernah 2 kali tinggal kelas dan sekarang menjadi cerpenis kondang dan redaktur majalah sastra Horison. Atau Thomas Alfa Edison yang justru dikeluarkan dari sekolah karena dianggap dungu tetapi malah menjadi seorang ilmuwan dunia. Juga beberapa contoh orang tak berprestasi di sekolah tapi jadi orang kondang adalah Issac Newton, Albert Einstein, Bill Gates (Pendiri Microsoft yang sering bolos sekolah). Dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Di lain pihak, yang dulunya murid pintar seringkali berakhir dengan bekerja di kantoran, mungkin mereka menghasilkan banyak uang tetapi belum tentu mereka sukses, karena mereka mungkin tidak terlalu menyukai apa yang mereka kerjakan, hal ini karena dari kecil mereka diarahkan untuk memperbaiki kelemahan dan tidak memperkuat apa sebetulnya kekuatan atau potensi yang mereka miliki.

Jika anak Anda termasuk dalam kategori anak pintar, maka galilah apa yang ia sukai, lalu berilah semangat agar ia juga melakukan hal yang ia sukai tersebut dan tidak hanya dipaksa untuk belajar terus-menerus.

Sedangkan jika anak Anda termasuk anak yang lemah dan lebih menyukai kesenangannya daripada belajar, carilah suatu alasan mengapa belajar itu juga penting untuk mendukung kesenangannya. Misalnya ia senang sekali dengan bermusik, beri pengertian bahwa seorang musisi juga harus belajar dan mengerti Bahasa Inggris ,supaya dapat sukses di luar negeri.

Ingat, mereka yang hanya memfokuskan diri untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan saja biasanya akan SULIT menemukan IMPIAN ketimbang mereka yang terbiasa fokus pada potensinya. Jadi jangan terpaku pada kelemahan, tapi fokuskan  juga perhatian Anda lebih kepada kekuatan atau potensi yang dimiliki. " GALI POTENSI RAIH PRESTASI  ". :)


Freni Yammad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar