Mengajar
bukanlah pekerjaan yang mudah tetapi membutuhkan keahlian khusus, kesungguhan,
pengetahuan dan seni.
Mengajar jangan diartikan hanya sebagai proses penyampaian materi pelajaran
kepada siswa, akan tetapi suatu proses mengatur lingkungan agar siswa dapat belajar
ssesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Pembelajar merupakan
pribadi yang unik, dimana siswa itu merupakan individu manusia yang memiliki
karakteristik yang sangat kompleks. Setiap individu pastinya memiliki potensi,
Intelegensi
yang berbeda dengan yang lainnya. Semua itu akan membentuk kepribadian yang
unik dan khas. Siswa yang satu akan berbeda dengan siswa yang lain. Kita
sebagai guru akan dihadapkan dalam situasi keragaman karakteristik siswa. Oleh
karena itu,, kita sebagai guru perlu memiliki kemampuan dalam merancang dan
mengimplementasikan berbagai strategi
maupun metode dalam pembelajaran yang kita anggap cocok dengan minat, bakat
serta sesuai dengan taraf perkembangan siswa. Agar siswa dapat mengembangkan
potensi yang ia miliki.
Sudah 8 ( Delapan Tahun ) saya berkecimpung di
dunia pendidikan. Tapi
pembelajaran yang saya dapatkan tak sesingkat waktu yang saya rasakan.. Pada
awal karier saya sebagai guru di Sekolah Islamic Boarding School, saya harus
menghadapi siswa yang mampu secara ekonomi dan maju secara berpikir. Mereka
dikelilingi dengan fasilitas pendukung yang lengkap.
Namun, situasi ini berbanding terbalik dengan siswa yang memiliki
motivasi belajar yang rendah, kemampuan kognitif yang standar dan karakter yang
berbeda. Menghadapi siswa yang begitu kompleks, saya berusaha menciptakan strategi baru dan melakukan
pendekatan personal,
salah satunya dengan menjadikan murid sebagai teman. Ternyata hal tersebut
sangat membantu dalam menciptakan suasana belajar-mengajar yang kondusif
dan menyenangkan.
Karakter setiap murid disini sangat beragam.
Keberagaman ini mengajarkan saya untuk memahami karakter orang lain
dan untuk bersabar dalam menghadapi orang lain. Melalui mereka, saya juga
belajar arti kesederhanaan dan semangat juang yang tinggi. Mereka rela bangun
pagi untuk berjalan kaki
dari asrama ke sekolah.
Tapi yang tak bisa dipungkiri adalah adanya
beberapa siswa yang berkelakuan nakal. Namun saya berusaha untuk selalu
menelusuri latar belakang dari kenakalan itu. Sebagian besar siswa yang
menjadi troublemaker di sekolah umumnya adalah anak-anak yang kurang
mampu atau datang dari sebuah broken
home. Akibatnya adalah mereka seringkali kurang mendapat
perhatian dari orang tua mereka. Walaupun itu, saya percaya bahwa dengan
sentuhan dan perhatian yang tulus, mereka dapat diubah menjadi lebih baik
seperti terkikisnya batu keras bila ditetesi air setiap hari.
Sukacita terbesar yang saya temukan saat
mengajar adalah ketika saya dapat berbagi hal-hal tentang kehidupan dengan anak
didik saya. Ini adalah awal munculnya suatu hubungan timbal balik antara guru
dan siswa. Hubungan ini sungguh menyejukkan hati karena keberadaan saya dapat
dirasakan tidak saja oleh anak-anak, tapi juga rekan-rekan guru. Kebahagiaan
ini apalagi terasa ketika hubungan ini ikut menghantar anak-anak menemukan jati
diri mereka dihadapan Allah. Ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi
saya.
Bagi saya pribadi, seorang pendidik harus bisa
mengenal setiap detil karakter siswa-siswi yang diajarnya. Pengenalan itu dapat
menjadi bekal bagi seorang pendidik untuk membuat dan menyusun strategi
pengajaran yang tepat bagi siswa-siswi tersebut. Setiap guru juga harus
memiliki ketulusan dan kemurnian hati dalam memberi dirinya kepada setiap anak
didiknya. Ia mampu memandang setiap siswa-siswi sebagai pribadi yang unik yang
perlu dibimbing dan di arahkan ke pengenalan diri yang benar
Semangatlah rekan-rekan guru Indonesia, mari
kita terus berjuang dan berkarya bagi anak bangsa. Harapan anak bangsa ada ditangan kita. Tugas
yang besar telah diberikan bagi kita, kiranya kita dapat terus setia merespon
panggilan ini dengan tanggung jawab. Bismillah…


Tulisannya sangat menginspirasi
BalasHapus